Menangkal Brainrot Melalui Pekan Permainan Tradisional sebagai Upaya Pendidikan Karakter Berbasis Budaya dan Kearifan Lokal 
Penulis : Yassa Yasin, S.Ak - 20 Februari 2025

SD PLUS 2 AL MUHAJIRIN- Setiap generasi memiliki warna tantangannya sendiri sesuai dengan corak zaman dan corak alamnya, generasi Indonesia pada era perjuangan kemerdekaan berjibaku dengan desingan peluru yang berhamburan, satu persatu bunga bangsa berguguran berlumuran darah, pada masa ini tantangan fisik dan psikologis begitu terpampangnya nyata. Tentu hal ini tidak lagi dirasakan oleh generasi masa kini yang secara formil sudah merdeka dari kekerasan perang. Akan tetapi pada sudut pandang lain menimbulkan suatu pertanyaan besar apakah karakter generasi muda Indonesia sudah berkarakter merdeka secara paripurna. Terlebih lagi pada era digital ini, banyak sekali istilah yang bermunculan dan melekat pada generasi masa kini seperti generasi stroberi yang dikenal sebagai generasi yang lemah dan rapuh alias cengeng, amat rentan terhadap kritik. Di era digital ini, generasi Indonesia juga menghadapi suatu bahaya laten yang dapat menyerang karakter mereka menjadi generasi cemas bukan generasi emas, yakni adanya Brainrot. Gempuran sosial media dan game online salah satu yang menjadi akar terjadinya Brainrot, yakni suatu fenomena pendangkalan mental manusia diakibatkan kecanduan terhadap konten-konten digital yang konyol dan receh atau kata lain konten berkualitas rendah. 


Pada jangka panjang konsumsi konten ini dapat berpengaruh terhadap perkembangan karakter penggunanya terutama secara psikologis. Berdasarkan data yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2021 anak-anak di atas 5 tahun di Indonesia menggunakan internet untuk mengakses sosial media mencapai presentase 88,99%2 artinya dari sekian tujuan menggunakan internet sosial media dianggap lebih menggoda bagi kalangan muda, tidak hanya itu BPS juga mencatat bahwa pada tahun 2023 pasar game online didominasi oleh anak-anak Indonesia yaitu mencapai 46,2%.3 Dapat ditarik garis besar bahwa anak-anak di Indonesia memang lebih tertarik pada hal-hal yang sifatnya hiburan semata, memang apabila dilihat secara potensi sosial media dan game online bisa memiliki sisi yang menjanjikan karena melalui sosial media seseorang dapat menjadi content creator sedangkan melalui game online dapat menjadi profesi pro player. 


Akan tetapi tidak dapat dinafikan bahwa efek domino dari sosial media dan game online ini lebih cenderung kepada efek negatif bagi anak-anak. Sekolah sebagai institusi moral harus dapat mewujudkan cita-cita luhur bangsa Indonesia yakni salah satunya adalah karakter yang madani bagi seluruh peserta didiknya. Mengingat beragam fenomena yang ada sebagai imbas dari perkembangan teknologi zaman ini, rasanya memang bukan perkara yang mudah untuk mendidik karakter anak sebagaimana yang telah tertuang dalam tujuan pendidikan nasional yang dimuat pada Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 yang secara garis besar menggambarkan karakter peserta didik Indonesia yang cerdas secara spiritual, akal, sosial, serta sejahtera lahir dan batin. 


Di tengah-tengah dinamika masyarakat yang kian hari semakin menggerus nilai-nilai luhur, pendidikan karakter pada institusi moral dalam konteks ini sekolah menjadi ujung tombak untuk mengkonstruksi dan membina karakter anak bangsa yang saat ini tengah tergila-gila oleh perkembangan era digital. Persoalan kembali muncul ketika dibenturkan antara kegemaran generasi sekarang dengan pendekatan yang selama ini berjalan terkesan konvensional dan tentu kurang menarik generasi digital native (GDN). Disinilah menurut penulis perlu menghadirkan kembali permainan tradisional sebagai solusi kreatif untuk menangulangi krisis nilai yang tengah menjangkit generasi masa kini. Permainan tradisional selain mengandung unsur hiburan juga mengedukasi secara sosial emosional, budaya, dan mendorong terjalinya interaksi yang dapat meningkatkan kompetensi kreatif dan kolaboratif. Dengan demikian pada esai ini, penulis akan menguraikan sekelumit persoalan generasi digital native dan bagaimana permainan tradisional dapat menjadi salah satu solusi kreatif yang dapat dintegrasikan melalui implementasi program sekolah. Fenomena brainrot adalah konsekuensi dari kemajuan teknologi yang tidak dibarengi dengan adanya kemajuan budaya penggunaan teknologi yang arif sehingga dampak negatif yang bermunculan menimpa anak-anak yang masih perlu bimbingan orang tua. Brain rot menurut oxford university press merujuk pada ketumpulan mental seseorang secara intelektual baik dalam hal kognitif maupun emosional sebagai akibat dari konsumsi berlebihan konten-konten yang tidak bermakna di sosial media istilah sederhana brain rot ini adalah pembusukan otak.


Ekosistem dunia digital acap kali dikendalikan oleh algoritma penggunannya sehingga konten-konten yang tampil pada sosial media merupakan hasil dari pencarian pengguna sehingga hal ini apabila konten-konten yang tidak bermakna pernah dicari atau disukai oleh pengguna akan secara otomatis algoritma yang ada mengarahkan pada hal-hal yang diinginkan pengguna. Keadaan seperti ini akan semakin memperparah bagi anak-anak yang telah candu terhadap konten yang mereka konsumsi. Konten-konten ringan yang repetitif dan cenderung kurang berkualitas amat berperan atas munculnya fenomena brainrot ini. Hal yang membuat kondisi ini semakin berbahaya adalah munculnya skibidi sindrom, yaitu adanya kecanduan terhadap konten-konten aneh, salah satunya adalah konten manusia toilet yang dinarasikan sebagai pahlawan perang, konten tersebut tentu tidak baik bagi anakanak yang perkembangan kognitif dan mentalnya sedang pada masa-masa pembentukan.

Pada jangka panjang hal ini tentu akan berdampak pada pola pembelajaran anak-anak dari kebiasaan akan mengkonsumsi informasi yang instan ini akan berpotensi menurunya kreatifitas dan berpikir kritis anak. Disamping itu memang tidak begitu saja bisa menyalahkan sosial media atau internet pada umumnya sebab keduanya hanyalah instrument atau alat tergantung pada penggunanya itu sendiri. Dengan demikian berdasarkan persoalan-persoalan yang disajikan, perlu langkah strategis sekolah sebagai institusi moral meminimalisir atau bahkan mengatasi dampak gilanya arus perkembangan teknologi ini. Menurut hemat penulis salah satu langkah terbaik adalah mengadakan pekan permainan tradisional di sekolah. Secara filosofi permainan tradisional ini syarat akan makna penting yang melekat di masyarakat selama ini. Disamping memiliki unsur hiburan, permainan tradisional juga memiliki nilai-nilai luhur yang dapat menjadi esensi pembentukan karakter pada anak.


Contoh permainan galah santang, nilai-nilai seperti kolaborasi dan kreatif mengatur siasat agar bisa lolos hingga menang. Selain itu bermain congklak ada unsur kesabaran dan perencanaan di dalamnya. Tentu nilai-nilai tersebut dapat bermanfaat bagi perkembangan kognitif dan emosional anak. Komunikasi antar teman yang terjadi secara langsung dalam permainan tradisional juga menjadi salah satu unsur positif yang dapat menambah kecakapan anak dalam berinteraksi sesamanya. Tentu hal ini berbanding terbalik dengan permainan game online yang acap kali menjadikan anak egois dan invidualistis. Melalui permainan tradisional ini anak jadi belajar bagaimana mereka mensiasati perselisihan di antara mereka, menghormati perbedaan pendapat yang terjadi, berperilaku santun dan jujur terhadap teman yang berbeda, dan menerima secara ksatria apabila mereka mengalami kekalahan. Sudah barang tentu hal-hal tersebut dapat menjadi unsur positif dalam membentuk kecapakan sosial anak-anak di era sekarang. 


Pada konteks implementasi, pekan permainan tradisional ini perlu kerjasama antar semua elemen antara lain para budaya penggiat permainan tradisional sebagai awal narasumber dari permainan yang akan dipilih, kemudian para guru dan tidak kalah penting yaitu orang tua. Sekurang-kurangnya dua bulan sekali pekan ini diadakan baik nantinya kolaborasi antara guru dan siswa maupun dengan orang tua siswa. Hal ini bertujuan agar terciptanya sinergitas dalam menumbuh kembangkan karakter anak. Disamping itu hal ini juga dapat menjadi salah satu upaya detoks dopamine anak-anak agar puasa terhadap konten-konten yang kurang bermakna. Integrasi pekan permainan tradisional dapat melalui ekstrakurikuler maupun kokurikuler apabila dalam kurikulum merdeka dapat diintegrasikan melalui Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) akan tetapi hal ini perlu dilakukan secara berkelanjutan guna mencapai tujuan yang diinginkan. Peran orang tua akan sangat efektif apabila memang ada satu hari meluangkan waktu bersama anak seharian untuk bermain permainan tradisional ini, dapat pula membuat konten video atau gambar yang nantinya dapat dijadikan kompetisi antar anak di sekolah. Tentu peran komunitas penggiat budaya permaina tradisional juga dibutuhkan terlebih lagi apabila ada program yang serupa untuk melestarikan permainan tradisional di tengah-tengah anak-anak yang sedang ‘keracunan’ sosial media dan game online. 

Kebersamaan orang tua dengan anak yang dijadikan sebagai konten di sosial media dapat menjadi sebuah ajang promosi nilai-nilai positif seperti nilai moral dan filosofis dari permainan tradisional kepada khalayak secara umum sekaligus juga mendesiminasikan kegiatan positif di sekolah tersebut hingga secara khusus bagi sekolah juga dapat menaikkan prestise dari sekolah tersebut yakni sebagai sekolah yang menjunjung kearifan lokal dan budaya Indonesia serta peduli terhadap perkembangan mental peserta didiknya. Revitalisasi kembali permainan tradisional adalah tentang melestarikan warisan budaya, sekaligus membentuk dan menginternalisasikan nilai-nilai positif yang ada di dalam permainan tersebut menjadi sebuah karakter yang utuh dan kuat untuk peserta didik di sekolah terlebih lagi tantangan di era seperti sekarang ini yang segala sesuatunya menggunakan digitalisasi. Permainan tradisional juga menjadi salah satu instrumen dalam mensiasati dampak negative dari brainrot. Memotivasu anak-anak agar senantiasa senang belajar nilai-nilai moral dengan cara yang relevan dan fun. Melalui implementasi permainan dalam program sekolah dan keseharian merupakan giat positif yang tidak hanya melestarikan kebudayaan namun menciptakan masa depan anak bangsa yang berkarakter.